RUMUS EMPIRIS SENYAWA
PERCOBAAN 3
RUMUS EMPIRIS SENYAWA
I.
Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk
mencari rumus empiris dari suatu senyawa dan menetapkan rumus molekul senyawa
tersebut.
2. Untuk
mempelajari cara mendapatkan data percobaan dan cara memakai data untuk
menghitung rumus empiris.
3. Untuk
mempelajari sifat-sifat senyawa berhidrat.
4. Untuk
mempelajari reaksi bolak-balik hidrasi.
5. Untuk
menentukan presentase air di dalam suatu hidrat.
II.
Landasan Teori
Rumus empiris suatu senyawa menyatakan nisbah
terkecil jumlah atom yang terdapat dalam senyawa tersebut. Rumus yang
sebenarnya untuk semua unsur dalam senyawa dinamakan rumus molekul. Misalnya,
hidrogen peroksida mempunyai rumus nyata H2O2 ini berarti
rumus empirisnya HO. Asetilena adalah gas yang digunakan untuk mengelas, dan
benzena adalah pelarut cair. Sifat fisis dan kimia kedua zat ini berbeda,
tetapi rumus empirisnya sama, yaitu CH. Rumus molekul asetilena C2H2
sedangkan rumus molekul benzena C6H6. Menurut sejarah,
rumus empiris ditentukan lewat penggabungan nisbah bobot dari unsur-unsurnya
ini merupakan langkah yang penting untuk memperlihatkan sifat berkala dari
unsir-unsur. Percobaan rumus empiris juga dilakukan untuk menentukan daya
gabung suatu unsur. Baru-baru ini, unsur sintetik Lawrensium diketahui memiliki
daya gabung 3 berdasarkan percobaan rumus empiris. Lawrensium radioaktif
bergabung dengan klorin membentuk Lawrensium klorida dengan rumus LrCl3.
Beberapa unsur menunjukkan daya gabung lebih dari satu. Sehingga, rumus empiris
senyawa tergantung pada bagaimana unsur itu bergabung. Misalnya, besi dapat bereaksi
dengan oksigen membentuk Besi (II) oksida atau besi (III) oksida, bergantung
pada kondisi percobaan pembentukan senyawa. Pada percobaan ini, pita Mg akan
dipanaskan dalam krus dan diubah menjadi Oksida.
Beberapa reaksi yang dilakukan di laboratorium kimia
selalu berkenaan dengan larutan, beberapa diantaranya bekerja dengan
menggunakan air sebagai pelarut. Ketika air diuapkan, hasil reaksi dapat
diisolasi, seringkali dalam bentuk padatan. Kadangkala produk padatan ini
mengandung molekul air sebagai bagian dari komposisinya. Sebagai contoh, jika
Nikel (II) oksida (NiO) dilarutkan dalam H2SO4 encer akan
membentuk NiSO4.
NiO
(s) + H2SO4 (aq) NiSO4 (aq)
+ H2O (l)
Bila air diuapkan terbentuklah Kristal berwarna
hijau gelap. Ketika dianalisis Kristal tersebut mengantung 6 mol air untuk
setiap mol Nikel (II) sulfat. Senyawa ini dinamakan hidrat atau garam hidrat,
dan air yang ada merupakan bagian penting dari komposisinya yang terbentuk dan
disebut air hidrat (Tim Penuntun Kimia Dasar, 2018).
Rumus kimia dapat berupa rumus molekul atau rumus
empiris, merupakan rumus molekul atau rumus empiris dari etana. H2O
merupakan rumus molekul sekaligus rumus empiris dari air, sedangkan NaCl
merupakan rumus empiris dari garam dapur. jika suaru rumus tidak dapat
disederhanakan lagi berarti rumus tersebut adalah rumus empiris, namun demikian
mungkin juga rumus molekul (Syukri, 1999)
Rumus Hidrogen peroksida, suatu zat yang digunakan
sebagai antiseptik dan zat pemutih adalah H2O2, rumus ini
menandakan bahwa setiap molekul Hidrogen peroksida terdiri atas dua atom
Hidrogen dan dua atom Oksigen, dalam molekul ini adalah 2:2 atau 1:1. Rumus empiris
Hidrogen peroksida adalah HO. Jadi, rumus empiris menunjukkan kepada kita
unsur-unsur yang ada dalam perbandingan bilangan bulat, yang paling sederhana
dari atom-atomnya tetapi tidak selalu harus menunjukkan jumlah atom sebenarnya
dalam suatu molekul (Cotton, 2003).
Hukum perbandingan tetap merupakan hukum yang
menghendaki penulisan rumus kimia yang baik berupa rumus empiris maupun rumus
molekul. Rumus empiris semyawa dapat ditentukan berdasarkan presentase massa
unsur-unsur yang terbentuk menjadi senyawa lain. Oleh karena itu, kita
mengetahui massa molar masing-masing unsur, maka dari perbandingan massa
unsur-unsur perbandingan molnya dalam senyawa. Perbandingan mol mencerminkan
pula jumlah atom sehingga kita dapat menghitung perbandingan massa unsur-unsur
dalam senyawa. Pada saat berbicara masalah larutan, kita pasti berbicara juga
tentang pelarut, dimana jumlahnya lebih besar atau solut atau jumlah zat yang
terlarut yang jumlahnya lebih kecil. Hal ini sudah biasa, namun tidak selalu
dapat diikuti, kadang pelarutnya mempunyai jumlah terkecil dari pada
terlarutnya dalam beberapa kasus. H2SO4 contoh dari kaus
ini. Kita menemukan bahwa air sebagai pelarut walaupun kuantitasnya kurang dari
H2SO4. Komponen dari sifat cairan baru ini, yaitu larutan
berbeda dari air murni. Larutan adalah campuran karena terdiri dari dua zat atau
lebih. Larutan ini homogen karena sifatnya diseluruh cairan, campuran air dan
pasir adalah campuran heterogen larutan (Gabelin, 2003).
Proses standarisasi diperlukan untuk mengetahui besar
konsentrasi sesungguhnya dari larutan yang dihasilkan, cara yang digunakan
bermacam-macam yaitu misalnya titrasi dapat digunakan dengan bahan baku primer
yakni bahan yang konsentrasi dapat langsung ditentukan dari berat bahan murni
yang dilarutkan dalam volume larutan yang terjadi. Larutan yang dibuat dari
bahan baku primer disebut larutan baku primer. Larutan adalah campuran homogen
dari dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing zat
penyusunnya tidak dapat dibedakan secara fisik. Larutan terdiri atas zat
terlarut dan pelarut (Purwoko, 2006).
Rumus empiris dapat juga menunjukkan rumus molekul
apabila tidak ada informasi tentang massa molekul relatif dari senyawa
tersebut. Misalnya NO2, dapat dikatakan sebagai rumus molekul jika
tidak ada informasi massa relative, tetapi jika massa molekul relatifnya
diketahui misalnya 92, maka NO2 merupakan rumus empiris karena rumus
molekul senyawa tersebut N2O4.
Untuk menentukan rumus empiris perlu terlebih dahulu menentukan komposisi massa
dari cuplikan senyawa yang ditentukan melalui percobaan. Selanjutnya data
tersebut bersama-sama dengan massa atom relatif unsur penyusun senyawa
digunakan untuk mengitung nilai perbandingan yang paling sederhana dari
atom-atom penyusun cuplikan senyawa itu (Nugrahanto, 2014).
III.
Alat
Dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini
adalah sebagai berikut:
3.1.
Alat
-
Cawan krus - Spatula
-
Neraca - Neraca
-
Kaki tiga - Bunsen
-
Penjepit - Pipet tetes
-
Kaca arloji
3.2.
Bahan
-
Pita Mg - Asam nitrat 4 M
-
Air suling -
Deterjen
-
Tisu - Larutan HNO3
-
Logam Tembaga - Tembaga (II) sulfat pentahidrat
IV.
Prosedur
Kerja
Adapun prosedur kerja dalam percobaan ini adalah
sebagai berikut:
4.1.
Cawan
krus
|
Ditimbang hingga ketelitian 0,01 gram dan dicatat
bobotnya.
Dibersihkan pita Mg dengan kertas tisu untuk
menghilangkan kotoran.
Digulung pita Mg hingga dapat masuk sesuai dengan
krus.
Dimasukkan dalam krus dan ditimbang
Diletakkan krus diatas kaki tiga yang dilengkapi
dengan segitiga porselen.
Bunsen
|
Dipanaskan krus
yang sudah disiapkan hingga dasar krus berpijar.
Dibuka sedikit tutup krus agar dapat udara bisa
masuk.
Pipet
tetes
|
Diteteskan 40
tetes air dalam cawan krus.
Dipanaskan krus dalam keadaan tertutup dengan api
kecil selama 5 menit, hingga tidak ada asap yang timbul.
Dimatikan Bunsen. Didinginkan krus selama 5 menit
lalu ditimbang.
Dilanjutkan pemanasan dengan api kecil selama 20 menit,
lalu didinginkan.
Neraca
|
Ditimbang krus dengan isi dan tutupnya hingga
ketelitian 0,001 gram.
Hasil
|
4.2.
Hidrasi Air
4.2.1. Penentuan
Kuantitatif Presentase Air dalam Senyawa Hidrat
Cawan
porselin
|
Diperiksa apakah masih baik, kemudian dicuci dengan
deterjen dan dibilas dengan air suling kemudian dengan HNO3 6 M dan
dibilas dengan air suling sekali lagi.
Dikeringkan
Kaki
Tiga
|
Ditempatkan
cawan porselin diatas kaki tiga.
Cawan
porselin
|
Dibuka sedikit penutupnya saat dipanaskan.
Dipanaskan dengan hati-hati sampai bagian tengah
cawan terlihat
membara. Pemanasan dilakukan selama 5 menit.
Dihentikan pemanasan dan didinginkan pada suhu kamar
selama 10-15 menit.
Dijaga cawan dan tutupnya agar selalu dalam keadaan
bersih, kemudian ditimbang.
Bunsen
|
Dipanaskan selama 1 menit dengan pembakar bunsen,
kemudian dinaikkan panasnya hingga bagian atas cawan terlihat merah.
Dibiarkan pemanasan selama 10 menit.
Dihentikan pemanasan, ditutup cawan, d
Kemudian dibiarkan dingin pada suhu kamar.
Ditimbang
Diulangi pemanasan sampai didapatkan bobot tetap
Dihitung presentase air dalam contoh dan ditentukan
rumus hidratnya.
Hasil
|
4.2.2. Reaksi
Bolak-balik Hidrat
Spatula
|
Cawan
|
Ditutup cawan dengan kaca arloji, kemudian
dipanaskan (jangan terlalu panas).
Dihentikan pemanasan, setelah dingin diteteskan air
yang berkumpul pada kaca arloci ke dalam cawan.
Hasil
|
V.
Data
Pengamatan
Adapun data
pengamatan yang kami peroleh dari percobaan adalah sebagai berikut :
5.1.
Rumus Empiris Senyawa (Senyawa Tembaga)
No
|
Hasil
|
|
1
|
Bobot Cawan Penguap
|
41,8368 gr
|
2
|
Bobot Cawan Penguap + Cu
|
42,3386 gr
|
3
|
Bobot Cawan Penguap + Oksida Cu
|
51,3098 gr
|
4
|
Bobot Oksida Tembaga yang diperoleh
|
9,473 gr
|
5
|
Reaksi dari Logam Cu dengan Asam Nitrat
|
CuSO4 + HNO3 à Cu(NO3)2 + H2O
|
5.2.
Air Hidat
No
|
Hasil
|
|
1
|
Massa Cawan Kosong + Tutup
|
47,5302 gr
|
2
|
Massa Cawan Kosong + Tutup + Contoh
|
48,5302 gr
|
3
|
Massa Cawan Kosong + Tutup + Contoh + Pemanasan 1
|
48,1825 gr
|
4
|
Massa Cawan Kosong + Tutup + Contoh + Pemanasan 2
|
|
5
|
Massa Cawan Kosong + Tutup + Contoh + Pemanasan 3
|
|
6
|
Massa Contoh setelah pemanasan (bobot tetap)
|
0,6523 gr
|
7
|
Massa Contoh setelah pemanasan
|
0,6523 gr
|
8
|
Massa Air yang hilang dari contoh
|
0,4532 gr
|
9
|
Persentase air yang hilang dari contoh
|
45,3 %
|
10
|
Massa Molar senyawa anhidrat
|
0,6532 gr
|
11
|
Rumus Hidrat
|
NiSO4.6H2O
|
12
|
Jumlah Zat Anu
|
1 gr
|
5.3.
Reaksi Bolak-Balik Hidrasi
No
|
Hasil
|
|
1
|
Warna CuSO4.5 H2O
|
Biru
|
2
|
Pemanasan CuSO4.5 H2O Terdapat
air pada kaca arloji (terdapat/tidak)
|
Terdapat
|
3
|
Warna contoh setelah pemanasan
|
Putih
|
4
|
Setelah pemanasan dan penambahan H2o terjadi
perubahan warna
|
Biru
|
5
|
Persamaan Reaksi
|
CuSO4.5 H2O à CuSO4 + 5 H2O
CuSO4 + 5 H2O à CuSO4.5 H2O
|
VI.
Pembahasan
6.1.
Rumus Empiris Senyawa
Sebelum
melakukan praktikum hal pertama kali yang harus dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan. Pada percobaan ini sebenarnya menggunakan
senyawa megnesium, namun dikarenakan pita Mg (magnesium) tidak ada, maka kami
menggunakan senyawa Cu sebagai pengganti senyawa megnesium.
Selanjutnya
kami menimbang cawan penguap. Hasil penimbangan diperoleh massanya 41,8368 gr
lalu kami memasukkan tembaga kedalam cawan penguap. Setelah itu, ditimbang
hingga diperoleh massanya 42,3368 gr. Kemudian, pada cawan yang berisi tembaga
kami campurkan dengan 10 mL Asam Nitrat 4 M dan ditutup dengan gelas arloji.
Setelah semua logam tembaga larut dipanaskan sampai terbentuk kristal hitam.
Pemanasan dilanjutkan sampai terbentuk kristal kekuning-kuningan. Lalu
ditimbang bila sudah dingin didapat massanya sebesar 51,3698 gr. Selama
pemanasan logam tebaga bereaksi dengan asam nitrat dengan reaksi :
Cu
+ 2HNO3 à Cu(NO3)2 + H2
Dari
data tersebut diperoleh bobot oksida
tembaga dengan rumus sebagai berikut :
Bobot
CuO = (Bobot Cawan + Bobot CuO) – Bobot
Cawan Penguap
= 51,3098 gr – 41,8368 gr
= 9,473 gr
Bobot
Cu = (Bobot cawan + Tembaga) – Bobot
Cawan
= 42,3368 gr – 41,8368 gr
= 0,5 gr
Bobot
O = Bobot CuO – Bobot Cu
= 9,473 gr – 0,5 gr
= 8,973 gr
Bobot
atom Cu yang diperoleh dari tabel berkala sebesar 63,54 dan bobot atom oksida
sebesar 16,0. Setelah data yang diperlukan diketahui maka kami dapat menghitung
rumus empiris CuO, yaitu :
Mol
Cu =
=
= 0,007869 mol
Mol
O =
=
= 0,560812
mol
Perbandingan
Mol Cu dan O
Cu :
O
1
71
Jadi,
rumus empiris yang diperoleh adalah CuO71
6.2.
Air Hidrat
Dari
percobaan ini kami memperoleh data massa cawan kosong + tutup sebesar 47,5302
gr dan massa cawan kosong + tutup + contoh dipanaskan lalu ditimbang hingga dihasilkan
massanya sebesar 48,1825 gr, massa cawan + tutup + contoh sebelum dipanaskan
48.5302 gr. Pemanasan dilakukan selama 5 menit lau dihitung persentase air yang
hilang selama pemanasan, yaitu :
Mol
Air =
=
= 0,0251 mol
Mol
NiSO4 =
=
= 0,01126
mol
Perbandingan
Mol NiSO4
Dan H2O
Mol NiSO4 : Mol H2O
0,01126
0,0252
1
2
Jadi, rumus hidratnya ialah NiSO4.2
H2O yang berarti setiap 1 mol NiSO4 mengikat 2 molekul
air. Molekul air ini apabila senyawa hidrat dipanaskan maka molekul air akan
dilepas dari hidrat dan menguap ke udara bebas.
6.3.
Reaksi Bolak-Balik Hidrasi
Pada
percobaan reaksi bolak-balik hidrasi didapatkan hasil yang sesuai teori dimana
CuSO4.5H2O adalah berwarna biru muda. Warna masih
merupakan senyawa hidrat yang mengandung air. Saat pemanasan H2O
dilepaskan terbukti dengan adanya air pada kaca arloji sehingga warna contoh
setelah pemanasan dan penambahan H2O warna contoh berubah menjadi
biru muda dan reaksi ini dinamakan reaksi bolak-balik hidrasi dengan persamaan
reaksi sebagi berikut :
CuSO4.5H2O
à
CuSO4 + 5H2O
VII.
Kesimpulan
Berdasarkan
percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan,sebagai berikut:
1.
Rumus Empiris Suatu
Senyawa dapat ditentukan dengan menetapkan perbandingan unsur-unsur dalam
senyawa. Rumus molekul ditentukan dengan rumus RM = (RE)n , n
tergantung pada Mr Senyawa.
2.
Untuk mendapatkan data
percobaan terlebih dahulu menimbang sampel. Rumus empiris ditentukan oleh data
: macam unsur (analilis kuantitatif), komposisi unsur (analisis kuantitatif),
dan massa atom relatif.
3.
Sifat-sifat senyawa
berhidrat yaitu :
·
Membentuk Kristal
·
Mengandung molekul air
·
Mengalami reaksi
bolak-balik
·
Dapat dipisahkan dengan
cara pemanasan
4.
Reaksi bolak-balik
hidrasi adalah reaksi dimana senyawa anhidrat dan air sebagai reaktan harganya
sama besar dengan produk yang dihasilkan yaitu senyawa hidrat atau sebaliknya.
5.
Persentase air dalam
suatu senyawa hdirat dapat ditentukan dengan rumus % Air
= Massa air x 100%
VIII.
Lampiran gambar
Warna
CuSO4.5H2O
Sebelum
pemanasan
|
Menyalakan
spirtus untuk memanaskan CuSO4.5H2O
|
Proses
pemanasan CuSO4.5H2O
|
CuSO4.5H2O
setelah dipanaskan lalu didinginkan dan terdapat air dikaca arloji
|
Warna
CuSO4.5H2O setelah ditetesi air menjadi biru terang
kembali
|
Memanaskan
CuSO4.5H2O sampai berwarna biru pucat atau memutih
|
Komentar
Posting Komentar